Ke Orchid Forest Cikole Pas Hari Kerja

Disclaimer: Ini adalah tulisan pertama saya di Jalan Hore Bandung, dan tulisan jalan-jalan pertama setelah sekian tahun. Jadi jika tulisannya agak kaku, saya tidak mau minta maaf.

Biar bacanya enak, perkenalan dulu kali, ya.

Jika kamu adalah pembaca setia Jalan Hore Bandung, kamu pasti tau kalau blog ini awalnya memiliki 3 kontributor; Fasya selaku ibuknya Jalan Hore Bandung, dan ada Anggiet & Ardizza sebagai Tim Hore. Karena faktor kesibukan, Anggiet dan Ardizza tidak lagi menulis di sini, dan Fasya menulis sendirian (yang nulisnya suka-suka) sampai akhirnya tadaaaaa, ada saya, Firman yang akan menemani Fasya mengelola Jalan Hore Bandung. Rencananya sih mau jadi bapaknya Jalan Hore Bandung. Kita lihat saja apakah sanggup.

Dan, tulisan pertama saya di sini adalah soal jalan-jalan ke:

Orchid Forest
Genteng, Cikole, Lembang
Kabupaten Bandung Barat
Jawa Barat


Dari Bandung Kota, kamu bisa ke Orchid Forest lewat dua jalan. 1) Lewat Punclut, atau 2) Lewat Setiabudi. Saran saya kalau ke sana pas akhir pekan lebih baik di rumah aja, karena lewat kedua jalan itu macet.

Perjalanan dari Bandung Kota ke Orchid Forest memakan waktu kurang lebih satu jam. Bisa lebih cepat kalau motor/mobil yang kamu kendarai kuat di tanjakan, dan bisa lebih lama kalau kamu cupu.

Setelah sampai di loket dan membayar 40.000 per orang, kamu masih harus menempuh jarak sekitar 1-2 km untuk sampai ke parkiran dan area hutan. Dan, tentu saja jalannya bikin sebal karena jelek dan menanjak, sangat tidak sepadan dengan biaya masuknya. Namun, begitu sampai di Orchid Forest-nya, rasa sebal itu akan hilang karena terbayarkan dengan pemandangan yang cukup indah dan sejuk. Ya iyalah, di hutan.

Begitu tiba di pintu masuk, kamu akan melihat tulisan besar “Orchid Forest CIKOLE” yang digandeng “wonderful Indonesia”-nya. Dan karena sedang ada pandemi, sebelum masuk pengunjung diwajibkan mencuci tangan, tetap pakai masker, dan diharuskan melewati pintu khusus untuk disemprot disinfektan.

Begitu melewati pintu masuk, kamu akan melihat pemandangan yang menyegarkan di segala sisi. Karena pada waktu ke sana tidak begitu ramai (saya datangnya ketika kebanyakan orang sedang sibuk kerja), saya sekali-duakali membuka masker untuk sekadar mengirup udara segar. Maklum, di kota kebanyakan ngirup polusi.

Calon bapaknya Jalanhorebandung

Spot pertama yang saya datangi adalah Orchid House, berisi berbagai jenis tanaman anggrek, dari yang berbunga indah, sampai yang tinggal batangnya doang. Setahu saya, tanaman anggrek adalah tanaman yang aromanya cukup wangi, tapi ketika di Orchid Forest ini, saya tidak begitu mencium aroma anggreknya bahkan setelah masuk ke Orchid House yang tertutup.

Oh, ternyata saya pakai masker. Maap.

Di dalam Orchid House, jenis tanaman anggreknya dibagi dua. Yang pertama adalah jenis anggrek yang juga akan bisa kita jumpai di tempat lain, dijejerkan di sepanjang jalan setapak menuju Orchid House, dan yang kedua adalah spesies langka yang hanya ditempatkan di bagian dalam dan diberi sekat tambahan agar tidak dijaili oleh pengunjung yang suka usil.

Keluar dari Orchid House, ada tempat semacam taman kecil untuk berfoto sekaligus beristirahat. Jalan sedikit ke atas menuju ke spot berikutnya kamu akan melewati satu ruangan berisi merchandise yang harganya cukup terjangkau. Di depannya, ada spot foto yang bagus juga.

Kalau haus, kamu bisa membeli minuman di tempat semacam taman yang saya sebutkan tadi. Pihak Orchid Forest Cikole bekerja sama dengan PT Amidis Tirta Mulia, yang memproduksi Amidis Water. Saya sendiri baru tau ada air minum merknya Amidis.

 

Apakah cuma itu yang ada di Orchid Forest Cikole?

Tentu saja tidak.

Lebih jauh ke dalam, ada Orchid Castle yang sepertinya adalah taman bermain khusus anak-anak. Sayangnya saat saya datang, kastil yang mirip bangunan tempat Cinderella berdansa dengan Pangeran sampai tengah malam ini sama sekali tidak ada orang di dalamnya alias kosong. Kemungkinan dikarenakan saya datang pada hari kerja, atau memang ditutup karena sedang ada pandemi.

Di sebelahnya, ada loket tiket menuju Wood Bridge. Wood Bridge ini mirip dengan Jembatan Gibraltar yang ada di Benteng Takeshi. Kalau kamu beli tiket Wood Bridge seharga 20.000, kamu akan bisa naik Flying Fox gratis. Posisi Flying Fox-nya ada di ujung Wood Bridge, jadi kamu tidak perlu bolak-balik. Kalau kamu datang bareng teman yang tidak mau naik Flying Fox tapi mau menyeberangi Wood Bridge, kamu bisa pakai tiketnya untuk naik Flying Fox lebih dari sekali.

Karena menurut saya jarak Flying Fox-nya tidak begitu jauh (dan tidak terlalu tinggi), saya pun penasaran untuk mencobanya. Sebelumnya saya belum pernah naik Flying Fox. Dan begitu saya mencoba, rasanya seperti… tidak habis ngapa-ngapain. Nyampenya cepet banget, tau-tau udah tiba di seberang.

Oh iya, setelah tiba di seberang Wood Bridge, untuk melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya, pilihannya ada dua: Naik Flying Fox, atau lewat jalan melingkar di bawah Wood Bridge. Kalau naik Flying Fox, kamu bisa sampai dalam waktu 10 detik, sedangkan lewat jalan melingkar di bawah durasinya kurang lebih sama dengan menonton 40 Instagram Stories di akun Awkarin.

Di sekeliling Wood Bridge dan Flying Fox ini, terdapat lampu-lampu kecil yang mengelilingi. Sepertinya akan sangat indah ketika menyala pada malam hari. Sayangnya, saya belum ada rencana untuk tinggal di sini sampai malam. Siang saja sudah dingin.

Selain yang saya sebutkan di atas, masih ada banyak lagi spot-spot lain dengan pemandangan yang bagus. Kalau saya intip akun Instagram Orchid Forest, banyak juga yang foto pre-wedding di sini. Ya, karena memang bagus sih buat foto-foto unyu gitu.

Saya tidak tau seberapa panjang jarak dari pintu masuk sampai ke Wood Bridge tadi, tetapi kalau tidak salah ingat, saya menempuh sekitar empat ribuan langkah sebagaimana yang saya lihat di aplikasi penghitung langkah di smartphone saya.

Di pintu keluar, ada mobil khusus yang siap sedia mengantarkan pengunjung kembali ke titik awal alias ke parkiran. Gratis. Kalau mau jalan kaki lagi juga tidak apa-apa, tapi pemandangannya kurang bagus dan jalannya jelek (kan lewat jalan yang saya keluhkan di awal tulisan). Jadi menurut saya sebaiknya naik mobil saja. Oh, mobilnya ini kayaknya angkot yang dimodifikasi menjadi jadi tanpa pintu, dan warnanya diganti jadi ungu agar sesuai dengan warna tema Orchid Forest. Saya tidak sempat mengambil foto mobilnya karena pas mau keluar tiba-tiba mendung dan terdengar suara geledek, jadi kamera saya amankan. Karena kalau rusak, ibuknya Jalan Hore pasti minta ganti ruginya ke saya, bukan ke pihak pengelola Orchid Forest.

Sebagai penutup, di pintu masuk kamu akan difoto oleh fotografer resmi Orchid Forest Cikole, dan fotonya bisa kamu cetak di stall sebelum pintu keluar. Harganya 35.000 untuk ukuran 4R, dan 50.000 untuk ukuran 6R.

Saya tidak menyarankan kamu untuk mengunjungi tempat wisata selama pandemi belum berakhir. Namun, kalau kamu memang benar-benar sudah bosan di rumah, silakan berkunjung ke tempat wisata dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Sering-sering cuci tangan, selalu pakai masker, bawa hand-sanitizer sendiri, dan kurangi menyentuh benda-benda yang sering dipegang bersama di tempat umum. Saran saya, pegang tangan pasangan kamu aja biar gak hilang.

Itu juga kalau punya.


Info Tempat Wisata:

Orchid Forest

Genteng, Cikole, Lembang
Kabupaten Bandung Barat
Jawa Barat

Jam operasional: 9 AM-6PM
Nomor telepon: (022) 27612816, 0821-1716-6368 (WA)

Harga tiket masuk:
Reguler: 40.000 per orang
Parkir mobil: 10.000
Parkir motor: 5.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s